Proses Pengobatan Patah Tulang Sampai Sembuh

Pengobatan Patah Tulang

Mendengar diagnosis patah tulang sering memunculkan banyak pertanyaan, mulai dari kebutuhan operasi, pengobatan patah tulang seperti apa, lama penyembuhan, hingga kemungkinan berapa lama kembali beraktivitas seperti semula. Ketidakpastian ini dapat membuat pasien dan keluarga merasa cemas.

Kabar baiknya, tulang memiliki kemampuan alami untuk memperbaiki diri. Dengan penanganan medis dan rehabilitasi yang tepat, sebagian besar patah tulang dapat sembuh dengan baik. Artikel ini membahas proses pengobatan patah tulang dari pertolongan pertama hingga kembali beraktivitas.

BOOKING SESI FISIOTERAPI PATAH TULANG ANDA SEKARANG DI KLINIK NK HEALTH

Apa yang Terjadi Saat Tulang Patah?

Sebelum memahami proses pengobatan patah tulang, penting untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam tubuh ketika tulang mengalami fraktur.

Saat tulang patah, kerusakan tidak hanya terjadi pada tulang. Pembuluh darah di sekitarnya dapat robek, sementara otot, tendon, ligamen, dan jaringan lunak lainnya ikut mengalami trauma. Pada kondisi tertentu, saraf di sekitar lokasi cedera juga dapat terdampak.

Inilah yang menyebabkan patah tulang menimbulkan nyeri hebat, pembengkakan, memar, dan kesulitan menggerakkan bagian tubuh yang cedera. Tingkat keparahan gejala bergantung pada lokasi, jenis patahan, dan luas kerusakan jaringan di sekitarnya.

Baca juga : Fisioterapi Patah Tulang Kaki

Jenis-Jenis Patah Tulang yang Perlu Diketahui

Setiap patah tulang membutuhkan penanganan yang berbeda. Dokter akan menilai kondisi kulit, pola patahan, dan posisi tulang sebelum menentukan metode pengobatan yang paling tepat.

1. Berdasarkan Kondisi Kulit

1. Fraktur tertutup

Fraktur tertutup terjadi ketika tulang patah, tetapi kulit di atasnya tetap utuh. Meski tidak terdapat luka terbuka, jaringan di sekitar tulang tetap dapat mengalami kerusakan.

2. Fraktur terbuka

Fraktur terbuka terjadi ketika patahan tulang menembus kulit atau terdapat luka yang terhubung dengan area patah tulang. Kondisi ini termasuk keadaan darurat karena memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi.

2. Berdasarkan Pola Patahan

1. Fraktur sederhana

Tulang patah menjadi dua bagian utama. Pola patahan biasanya lebih mudah ditangani dibandingkan fraktur yang menghasilkan banyak pecahan.

2. Fraktur kominutif

Tulang pecah menjadi tiga bagian atau lebih. Jenis patah tulang ini sering terjadi akibat benturan kuat dan dapat membutuhkan tindakan operasi.

3. Fraktur greenstick

Tulang mengalami retak sebagian dan membengkok, tetapi tidak patah sepenuhnya. Fraktur greenstick lebih sering terjadi pada anak-anak karena tulang mereka masih lebih lentur.

4. Fraktur stres

Fraktur stres merupakan retakan kecil pada tulang akibat tekanan atau aktivitas berulang. Kondisi ini sering dialami pelari, atlet, atau orang yang meningkatkan intensitas latihan secara mendadak.

3. Berdasarkan Posisi Tulang

1. Fraktur tidak bergeser

Pada fraktur tidak bergeser, potongan tulang masih berada dalam posisi yang mendekati normal. Kondisi ini sering dapat ditangani dengan imobilisasi menggunakan gips atau penyangga.

2. Fraktur bergeser

Pada fraktur bergeser, potongan tulang berpindah dari posisi normal. Dokter perlu mengembalikan posisi tulang melalui tindakan reposisi, baik tanpa operasi maupun dengan operasi.

Jenis, lokasi, dan tingkat pergeseran patah tulang akan menentukan metode penanganannya. Sebagian kasus cukup ditangani dengan gips, sedangkan kondisi yang lebih kompleks dapat membutuhkan operasi agar tulang kembali stabil dan menyatu dengan baik.

Baca juga : Fisioterapi Patah Tulang Tangan

Proses Pengobatan Patah Tulang Sampai Sembuh

Pengobatan patah tulang tidak berhenti setelah pemasangan gips atau operasi. Prosesnya dimulai sejak pertolongan pertama, dilanjutkan dengan pemeriksaan medis, stabilisasi tulang, penyembuhan biologis, hingga rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi tubuh. Berikut beberapa tahapan proses pengobatan patah tulang sampai sembuh.

Tahap 1 : Pertolongan Pertama Sebelum ke Rumah Sakit

Tindakan pada menit-menit awal setelah cedera dapat memengaruhi tingkat kerusakan jaringan dan proses pemulihan.

Hal yang Harus Dilakukan

1. Jangan menggerakkan bagian tubuh yang cedera

Pergerakan pada tulang yang patah dapat memperparah kerusakan otot, pembuluh darah, saraf, dan jaringan di sekitarnya. Pertahankan posisi tubuh senyaman mungkin dan batasi gerakan.

2. Lakukan imobilisasi sementara

Jika memahami caranya, stabilkan area cedera menggunakan bidai dari papan, kardus tebal, atau benda kaku lainnya. Ikat secara longgar dan jangan mengubah posisi tulang secara paksa.

Jika tidak yakin, sebaiknya jangan memasang bidai sendiri. Minimalkan pergerakan dan segera cari bantuan medis.

3. Hentikan perdarahan pada fraktur terbuka

Tekan area di sekitar luka menggunakan kain atau perban bersih. Jangan menekan langsung tulang yang menonjol dan jangan mencoba memasukkannya kembali.

4. Gunakan kompres dingin

Tempelkan es yang telah dibungkus kain di sekitar area cedera untuk membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri. Hindari menempelkan es langsung pada kulit atau luka terbuka.

5. Segera bawa ke fasilitas kesehatan

Patah tulang membutuhkan pemeriksaan medis untuk mengetahui lokasi, pola patahan, pergeseran, serta kemungkinan kerusakan saraf dan pembuluh darah.

Hal yang Tidak Boleh Dilakukan

  • Jangan mencoba meluruskan atau mengembalikan posisi tulang sendiri.
  • Jangan memijat bagian tubuh yang diduga mengalami patah tulang.
  • Jangan menggunakan kompres panas pada fase awal cedera.
  • Jangan memberi makanan atau minuman jika pasien kemungkinan membutuhkan operasi atau pembiusan.
  • Jangan menunda pemeriksaan dengan harapan tulang akan sembuh sendiri.

Catatan tentang Pengobatan Tradisional

Praktik seperti urut patah tulang atau sangkal putung masih digunakan oleh sebagian masyarakat. Namun, pemijatan pada tulang yang belum stabil dapat meningkatkan risiko pergeseran, kerusakan saraf, gangguan pembuluh darah, atau penyatuan tulang dalam posisi yang salah.

Pemeriksaan medis dan rontgen tetap diperlukan untuk memastikan kondisi tulang sebelum menentukan penanganan yang aman.

Tahap 2 : Diagnosis dan Pemeriksaan Medis

Setelah pasien tiba di fasilitas kesehatan, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk menentukan lokasi, jenis, dan tingkat keparahan patah tulang.

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter akan menilai:

  • Perubahan bentuk anggota tubuh.
  • Pembengkakan dan memar.
  • Lokasi nyeri tekan.
  • Luka terbuka.
  • Kemampuan bergerak.
  • Aliran darah pada bagian tubuh di bawah lokasi cedera.
  • Fungsi saraf, termasuk rasa kebas atau kelemahan.

Pemeriksaan saraf dan sirkulasi penting untuk memastikan patahan tulang tidak menekan pembuluh darah atau saraf.

2. Rontgen

Rontgen merupakan pemeriksaan utama untuk melihat lokasi, pola, dan posisi patahan. Dokter biasanya mengambil gambar dari dua sudut atau lebih agar kondisi tulang terlihat dengan jelas.

3. CT Scan

CT scan digunakan untuk mengevaluasi fraktur yang kompleks, terutama pada sendi, panggul, tulang belakang, atau bagian tubuh dengan banyak struktur tulang. Pemeriksaan ini memberikan gambaran yang lebih detail dibandingkan rontgen.

4. MRI

MRI dapat digunakan jika dokter mencurigai cedera jaringan lunak, seperti ligamen, tendon, tulang rawan, atau meniskus. Pemeriksaan ini juga dapat membantu mendeteksi fraktur stres yang belum terlihat pada rontgen.

Tahap 3 : Metode Pengobatan Patah Tulang

Setelah diagnosis ditegakkan, dokter akan menentukan metode pengobatan berdasarkan lokasi fraktur, tingkat pergeseran, kestabilan tulang, usia pasien, serta kondisi jaringan di sekitarnya.

Secara umum, pengobatan patah tulang dibagi menjadi penanganan tanpa operasi dan dengan operasi.

A. Penanganan Patah Tulang Tanpa Operasi

Penanganan konservatif biasanya dipilih untuk patah tulang yang tidak bergeser, relatif stabil, atau dapat dikembalikan ke posisi normal tanpa pembedahan.

1. Reduksi Tertutup

Pada reduksi tertutup, dokter mengembalikan posisi tulang melalui manipulasi dari luar tanpa membuat sayatan. Prosedur dapat dilakukan dengan obat pereda nyeri, sedasi, atau pembiusan sesuai kondisi pasien.

Setelah posisi tulang membaik, dokter akan memasang gips atau penyangga untuk mempertahankan kestabilannya.

2. Pemasangan Gips

Gips berfungsi menjaga posisi tulang selama proses penyembuhan. Pada beberapa kasus, gips mencakup sendi di atas dan di bawah lokasi fraktur agar gerakan dapat dibatasi secara optimal.

Pasien perlu menjaga gips tetap kering dan segera memeriksakan diri jika muncul nyeri hebat, kebas, jari membiru, atau pembengkakan yang semakin berat.

3. Splint atau Bidai

Splint dapat digunakan saat pembengkakan masih cukup besar. Berbeda dari gips penuh, splint tidak mengelilingi seluruh anggota tubuh sehingga masih memberi ruang ketika bengkak bertambah.

Setelah pembengkakan berkurang, dokter dapat menggantinya dengan gips atau penyangga lain.

4. Brace atau Penyangga Fungsional

Brace menjaga kestabilan tulang tetapi masih memungkinkan gerakan tertentu. Alat ini sering digunakan pada jenis fraktur tertentu atau saat pasien mulai memasuki tahap pemulihan lanjutan.

5. Traksi

Traksi menggunakan tarikan terkontrol untuk membantu mempertahankan posisi tulang atau mengurangi tarikan otot. Saat ini, traksi lebih sering digunakan sebagai penanganan sementara sebelum tindakan definitif.

B. Penanganan Patah Tulang dengan Operasi

Operasi dapat diperlukan jika patahan bergeser secara signifikan, tidak stabil, melibatkan permukaan sendi, merusak jaringan di sekitarnya, atau terjadi pada fraktur terbuka.

1. ORIF (Open Reduction and Internal Fixation)

Open Reduction and Internal Fixation atau ORIF merupakan prosedur untuk mengembalikan posisi tulang melalui operasi, kemudian menahannya menggunakan alat fiksasi internal.

Alat yang dapat digunakan meliputi:

  • Plat dan sekrup.
  • Intramedullary nail atau pen di dalam rongga tulang.
  • Kawat atau pin.

Fiksasi yang stabil dapat membantu mempertahankan posisi tulang dan memungkinkan mobilisasi lebih awal pada beberapa jenis fraktur.

2. Fiksasi Eksternal

Pada fiksasi eksternal, pin dimasukkan ke tulang dan dihubungkan dengan rangka yang berada di luar tubuh.

Metode ini dapat digunakan pada fraktur terbuka, cedera dengan kerusakan jaringan lunak berat, atau sebagai penanganan sementara sebelum operasi lanjutan.

3. Arthroplasty

Arthroplasty merupakan tindakan mengganti sebagian atau seluruh permukaan sendi. Prosedur ini dapat dipilih ketika patahan merusak sendi secara berat, misalnya pada fraktur leher tulang paha pada sebagian pasien lanjut usia.

Tahap 4 : Proses Penyembuhan Tulang

Tulang tidak menyatu dalam satu tahap. Tubuh menjalankan beberapa fase penyembuhan yang saling bertumpang tindih. Menurut Fracture Education dari The Royal Children’s Hospital Melbourne, penyembuhan fraktur terjadi melalui pembentukan kalus yang melalui tiga fase yang saling bertumpuk yaitu inflamasi, reparatif, dan remodeling.

Waktu setiap fase dapat berbeda tergantung usia, lokasi fraktur, kestabilan tulang, kondisi kesehatan, dan metode pengobatan.

Fase 1: Hematoma dan Inflamasi

Waktu : beberapa jam hingga beberapa hari

Saat tulang patah, pembuluh darah di sekitarnya ikut robek dan membentuk hematoma atau gumpalan darah pada lokasi cedera.

Tubuh kemudian mengirim sel-sel peradangan, faktor pertumbuhan, dan zat kimia lain untuk membersihkan jaringan yang rusak serta memulai proses perbaikan.

Pada fase ini, pasien biasanya mengalami:

  • Nyeri cukup berat.
  • Pembengkakan.
  • Memar.
  • Area cedera terasa hangat.
  • Kesulitan menggerakkan bagian tubuh.

Reaksi tersebut merupakan bagian dari respons awal tubuh terhadap cedera. Namun, nyeri atau pembengkakan yang semakin berat tetap perlu diperiksa.

Fase 2: Pembentukan Kalus Lunak

Waktu : sekitar minggu kedua hingga minggu keempat

Tubuh mulai membangun “jembatan sementara” di antara ujung-ujung tulang yang patah.

Berdasarkan artikel referensi radiologi dari Radiopaedia, dalam 7–14 hari terbentuk jaringan granulasi di antara fragmen tulang yang membawa vaskularisasi ke hematoma. Sel-sel progenitor kemudian berdiferensiasi menjadi fibroblas dan kondroblas, memproduksi matriks organik berupa jaringan fibrosa dan tulang rawan.

Fase 3: Pembentukan Kalus Keras

Waktu: sekitar minggu keempat hingga beberapa bulan

Kalus lunak mulai mengalami mineralisasi dan berubah menjadi tulang baru yang lebih keras. Struktur ini secara bertahap menghubungkan kedua ujung tulang yang patah.

Pada fase ini:

  • Nyeri berkurang secara signifikan.
  • Tulang mulai lebih stabil.
  • Celah patahan mulai terisi pada pemeriksaan rontgen.
  • Beban dapat ditingkatkan secara bertahap jika dokter mengizinkan.

Meski lebih kuat, tulang baru belum memiliki struktur dan kekuatan yang sama dengan tulang matang.

Fase 4: Remodeling Tulang

Waktu: beberapa bulan hingga beberapa tahun

Pada fase remodeling, tubuh membentuk ulang tulang agar struktur dan kekuatannya semakin mendekati kondisi semula.

Sel osteoklas menyerap kelebihan jaringan tulang, sedangkan osteoblas membangun tulang baru yang lebih teratur. Proses ini dipengaruhi oleh gerakan dan beban yang diterima tubuh.

Latihan dan pembebanan yang diberikan secara bertahap dapat membantu tulang beradaptasi. Namun, intensitasnya harus mengikuti arahan dokter dan fisioterapis.

Proses remodeling tetap berlangsung meskipun pasien sudah tidak merasakan nyeri dan telah kembali melakukan aktivitas sehari-hari.

Tahap 5 : Rehabilitasi Patah Tulang

Rehabilitasi sering dianggap sebagai tahap tambahan. Padahal, tahap ini sangat menentukan keberhasilan pasien dalam mengembalikan kekuatan, gerak, keseimbangan, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

Mengapa Rehabilitasi Sangat Penting?

Selama tulang dipasang gips atau gerak tubuh dibatasi, otot dan sendi di sekitarnya ikut mengalami perubahan. Imobilisasi yang terlalu lama dapat menyebabkan:

  • Kekakuan sendi.
  • Penurunan massa dan kekuatan otot.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Penurunan kemampuan berjalan.
  • Gangguan sirkulasi darah.
  • Peningkatan risiko deep vein thrombosis atau DVT pada kondisi tertentu.

Gips dan operasi membantu menstabilkan tulang. Namun, keduanya tidak otomatis mengembalikan fungsi otot, sendi, dan pola gerak. Karena itu, rehabilitasi aktif tetap dibutuhkan setelah kondisi tulang dinilai cukup stabil.

Apa Manfaat Mobilisasi Dini?

Mobilisasi dini berarti mulai melakukan gerakan atau pembebanan lebih awal sesuai izin dokter. Tujuannya bukan memaksa tulang bekerja, tetapi mencegah tubuh kehilangan terlalu banyak fungsi selama masa pemulihan.

Penelitian pada pasien fraktur pergelangan kaki setelah operasi ORIF menunjukkan bahwa mobilisasi dini dapat membantu pasien kembali bekerja lebih cepat. Pembebanan dini yang dilakukan secara terkontrol juga berpotensi memberikan hasil fungsi jangka panjang yang lebih baik.

Penelitian pada fraktur pergelangan tangan juga menunjukkan bahwa pasien yang menjalani mobilisasi dini dapat mengalami pemulihan fungsi lebih cepat pada tahap awal dibandingkan pasien yang memulai latihan lebih lambat.

Meski bermanfaat, mobilisasi dini tidak aman untuk semua kasus. Risiko pergeseran tulang, kegagalan fiksasi, atau implan longgar tetap perlu dipertimbangkan. Program rehabilitasi harus disesuaikan dengan jenis fraktur, kestabilan tulang, metode operasi, usia, dan kondisi tulang pasien.

Kesimpulannya, mobilisasi dini sebaiknya dilakukan berdasarkan izin dokter dan arahan fisioterapis, bukan atas inisiatif sendiri.

Tahapan Rehabilitasi Patah Tulang

Waktu setiap fase dapat berbeda pada setiap pasien. Dokter dan fisioterapis akan menyesuaikannya berdasarkan hasil pemeriksaan dan perkembangan penyembuhan tulang.

Fase Awal: 0–4 Minggu

Fokus utama fase awal adalah melindungi area cedera, mengendalikan gejala, dan mencegah penurunan fungsi tubuh.

Program dapat meliputi:

  • Mengurangi nyeri dan pembengkakan.
  • Latihan isometrik, yaitu mengencangkan otot tanpa menggerakkan sendi.
  • Menggerakkan sendi yang tidak mengalami cedera.
  • Latihan pernapasan pada pasien yang lama berbaring.
  • Menjaga sirkulasi darah.
  • Belajar menggunakan kruk, walker, atau alat bantu lainnya.
  • Edukasi mengenai aktivitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Fase Menengah: 4–12 Minggu

Pada fase ini, tulang biasanya mulai lebih stabil. Latihan dapat ditingkatkan secara bertahap setelah mendapat izin dokter.

Program rehabilitasi dapat mencakup:

  • Latihan rentang gerak sendi secara progresif.
  • Penguatan otot ringan hingga sedang.
  • Latihan berjalan.
  • Penambahan beban secara bertahap.
  • Latihan kontrol gerak dan postur.
  • Terapi manual untuk membantu mengatasi kekakuan sendi atau jaringan parut.
Fase Lanjut: 3–6 Bulan

Fase lanjut berfokus pada pengembalian kekuatan dan kemampuan fungsional agar mendekati kondisi sebelum cedera.

Program dapat meliputi:

  • Penguatan otot yang lebih intensif.
  • Latihan keseimbangan dan proprioception.
  • Latihan naik turun tangga.
  • Latihan jongkok, berdiri, atau membawa beban.
  • Latihan yang disesuaikan dengan pekerjaan.
  • Persiapan kembali berolahraga.
Fase Kembali Beraktivitas: 6 Bulan atau Lebih

Pada tahap ini, pasien mulai mempersiapkan diri untuk kembali menjalani aktivitas dengan intensitas penuh. Waktunya bergantung pada jenis patah tulang, lokasi cedera, dan kebutuhan aktivitas pasien.

Program dapat mencakup:

  • Latihan khusus sesuai jenis olahraga.
  • Latihan kecepatan, kelincahan, atau daya tahan.
  • Simulasi gerakan kerja.
  • Koreksi pola gerak yang kurang tepat.
  • Pencegahan cedera berulang.
  • Transisi menuju latihan mandiri.

Rehabilitasi tidak boleh hanya berpatokan pada waktu. Pasien perlu menunjukkan kekuatan, gerak, keseimbangan, dan kemampuan fungsional yang memadai sebelum kembali bekerja berat atau berolahraga.

Baca juga : Fisioterapi Patah Tulang Paha

Berapa Lama Patah Tulang Sembuh? Ini Perkiraannya

Pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Berapa lama patah tulang sembuh? jawabannya sangat bergantung pada tulang mana yang patah, seberapa parah, dan kondisi individual. Sebagai gambaran umum :

Lokasi FrakturEstimasi Waktu Penyembuhan
Fraktur stres / retak halus6–8 minggu
Lengan / pergelangan tangan6–10 minggu
Tulang selangka (klavikula)6–12 minggu
Pergelangan kaki6–12 minggu
Tulang kering (tibia)3–4 bulan
Tulang paha (femur)4–6 bulan

penting untuk anda ketahui, angka di atas adalah estimasi penyatuan tulang bukan waktu untuk kembali ke fungsi penuh. Pemulihan fungsional (kekuatan otot, lingkup gerak sendi, kemampuan beraktivitas normal) sering membutuhkan waktu tambahan yang signifikan.

Faktor yang Mendukung Penyembuhan Patah Tulang

Proses penyembuhan patah tulang berbeda pada setiap orang. Beberapa faktor yang dapat mendukung pemulihan meliputi:

  • Usia lebih muda. Tulang anak-anak umumnya menyatu lebih cepat karena proses pembentukan tulangnya masih aktif.
  • Nutrisi yang cukup. Protein, kalsium, vitamin D, dan zat gizi lain dibutuhkan untuk membentuk jaringan tulang baru.
  • Tidak merokok. Aliran darah dan pasokan oksigen ke area patah tulang menjadi lebih baik.
  • Kondisi kesehatan yang terkontrol. Penyakit penyerta yang dikelola dengan baik dapat mengurangi risiko komplikasi.
  • Mematuhi instruksi dokter. Penggunaan gips, pembatasan beban, perawatan luka, dan jadwal kontrol perlu dijalankan dengan disiplin.
  • Rehabilitasi tepat waktu. Latihan yang diberikan sesuai tahap penyembuhan membantu mengembalikan kekuatan dan fungsi tubuh.

Faktor yang Memperlambat Penyembuhan Patah Tulang

Beberapa kondisi dapat memperlambat penyatuan tulang atau meningkatkan risiko tulang gagal menyatu, antara lain:

  • Merokok, karena nikotin menyempitkan pembuluh darah dan mengurangi pasokan oksigen ke tulang.
  • Usia lanjut, karena proses pembentukan tulang cenderung berjalan lebih lambat.
  • Diabetes yang tidak terkontrol, yang dapat mengganggu aliran darah dan meningkatkan risiko infeksi.
  • Osteoporosis, karena kepadatan dan kekuatan tulang menurun.
  • Malnutrisi, terutama kekurangan protein, vitamin D, dan mineral penting.
  • Penggunaan kortikosteroid jangka panjang, yang dapat menurunkan pembentukan dan kekuatan tulang.
  • Infeksi pada lokasi fraktur, terutama pada patah tulang terbuka.
  • Pergerakan atau pembebanan terlalu cepat, yang dapat mengganggu kestabilan tulang.
  • Aliran darah yang buruk pada area cedera.
  • Tidak mengikuti jadwal kontrol dan rehabilitasi yang telah ditentukan.

Pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen atau mengubah aktivitas. Suplemen tidak dapat menggantikan pola makan seimbang dan penanganan medis yang tepat.

Baca juga : Fisioterapi Pasca Operasi Patah Tulang

Peran Fisioterapi Dalam Proses Pengobatan Patah Tulang

Setelah tulang dinyatakan cukup stabil oleh dokter, fisioterapi berperan penting untuk mengembalikan gerak, kekuatan otot, keseimbangan, dan kemampuan beraktivitas. Program rehabilitasi perlu disesuaikan dengan lokasi patah tulang, jenis penanganan, hasil operasi, serta tahap penyembuhan pasien.

Salah satu klinik fisioterapi yang melayani kasus patah tulang adalah klinik NK Health. Di Klinik fisioterapi NK Health, fisioterapis akan melakukan pemeriksaan sebelum menyusun program rehabilitasi. Penanganan dapat meliputi latihan rentang gerak, penguatan otot, latihan berjalan, latihan keseimbangan, terapi manual, serta edukasi aktivitas yang aman. Setiap latihan diberikan secara bertahap agar fungsi tubuh kembali optimal tanpa memberikan beban berlebihan pada tulang yang sedang pulih.

TESTIMONI PASIEN FISIOTERAPI PATAH TULANG KLINIK NK HEALTH

NK Health sendiri sudah berdiri sejak tahun 2015 dan memiliki head fisioterapi international yaitu (Dpt) Nicolas Bagus Setiabudi, BPhys (Hons), MBA – Head Physiotherapist ( dari Universitas Melbourne ) with working Experience From Tan Tock Seng Hospital Singapore. Fisioterapis kami jelas sudah memiliki standar fisioterapi luar negeri untuk membantu pasien cepat pulih.

(Dpt) Nicolas Bagus Setiabudi, BPhys (Hons), MBA

Jangan menunggu sampai sendi semakin kaku atau otot semakin lemah. Konsultasikan kondisi patah tulang anda di Klinik NK Health untuk mendapatkan program fisioterapi patah tulang yang terarah, aman, dan sesuai dengan kebutuhan pemulihan.

BOOKING SESI FISIOTERAPI PATAH TULANG ANDA SEKARANG