
Vertigo yang sudah mereda bisa kembali muncul, terutama pada BPPV. Kekambuhan ini cukup umum dan dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi kristal di telinga dalam maupun kondisi kesehatan tertentu. Akhirnya Muncul pertanyaan “kenapa vertigo sering kambuh padahal sudah pernah ditangani?“
Artikel ini membahas penyebab vertigo sering kambuh dan cara membantu mengurangi risikonya.
BOOKING SESI FISIOTERAPI VERTIGO ANDA SEKARANG
Seberapa Sering Vertigo Kambuh?
Sebelum membahas penyebabnya, penting mengetahui gambaran angkanya agar ekspektasi lebih realistis.
Sebuah tinjauan literatur yang dipublikasikan di jurnal Nutrients (MDPI) merangkum bahwa angka kekambuhan BPPV berkisar 13,7% hingga 23% pada studi dengan masa pengamatan kurang dari satu tahun, dan 13,3% hingga 65% pada studi dengan pengamatan dua tahun atau lebih.
Sementara itu, sebuah studi populasi berbasis data asuransi kesehatan nasional Korea mencatat angka kekambuhan BPPV secara keseluruhan sebesar 20,8%. Artinya, sekitar 1 dari 5 orang dapat mengalami kekambuhan. Rentang angka yang cukup lebar antar penelitian menunjukkan bahwa risiko kekambuhan sangat dipengaruhi kondisi masing-masing individu.
Baca juga : Cara Menyembuhkan Vertigo dengan Tepat & Mencegah Kambuh
Kenapa Vertigo Sering Kambuh? Ini 6 Faktor Utamanya
Buat anda yang masih bertanya-tanya “kenapa vertigo sering kambuh?” Berikut ini adalah 6 penyebab utama vertigo anda sering kambuh :
1. Kristal Telinga Dalam Dapat Terlepas Kembali
Ini adalah mekanisme dasarnya. Di telinga dalam terdapat kristal kalsium karbonat berukuran sangat kecil bernama otokonia. Pada BPPV, kristal ini terlepas dari tempatnya dan masuk ke saluran keseimbangan (kanal semisirkularis), sehingga mengirimkan sinyal keliru ke otak berupa sensasi berputar.
Manuver reposisi yang dilakukan tenaga kesehatan bertujuan mengembalikan kristal tersebut ke posisi semula. Namun prosedur ini tidak mengubah kecenderungan kristal untuk kembali terlepas di kemudian hari.
2. Kekurangan Vitamin D dan Gangguan Kepadatan Tulang
Ini faktor yang paling banyak diteliti dalam beberapa tahun terakhir dan cukup masuk akal secara ilmiah, karena otokonia tersusun dari kalsium karbonat.
Studi populasi Korea yang disebutkan sebelumnya menemukan bahwa pasien dengan kekurangan vitamin D memiliki angka kekambuhan lebih tinggi (25,2%) dibanding kelompok dengan kadar vitamin D normal (20,8%). Studi tersebut juga mencatat bahwa suplementasi vitamin D berkaitan dengan penurunan risiko kekambuhan, dengan efek yang lebih nyata pada pasien perempuan.
Sebuah meta-analisis yang terindeks di PubMed juga menyimpulkan bahwa osteoporosis dan defisiensi vitamin D termasuk faktor risiko kekambuhan BPPV.
3. Gangguan Pembuluh Darah dan Metabolik
Faktor ini sering tidak disadari, padahal pengaruhnya cukup besar. Sebuah tinjauan klinis yang dipublikasikan di PubMed Central melaporkan angka kekambuhan yang tinggi pada beberapa kelompok:
| Kondisi Penyerta | Angka Kekambuhan |
|---|---|
| Kolesterol tinggi (hiperlipidemia) | 67,80% |
| Hipertensi | 55,89% |
| Diabetes melitus | 53,48% |
Tinjauan tersebut menyimpulkan bahwa komorbiditas vaskular meningkatkan risiko kekambuhan BPPV, kemungkinan berkaitan dengan gangguan aliran darah ke struktur telinga dalam.
4. Jenis Kelamin Perempuan dan Perubahan Hormon
Meta-analisis yang sama menyebutkan jenis kelamin perempuan sebagai salah satu faktor risiko kekambuhan.
Sebuah studi multisenter yang dipublikasikan di Frontiers in Neurology meneliti perempuan pascamenopause secara khusus. Hasilnya menemukan bahwa setiap penurunan 10 ng/mL kadar 25(OH)D berkaitan dengan peningkatan risiko kekambuhan sebesar 2,15 kali lipat. Kadar estradiol yang rendah juga berkaitan dengan risiko kekambuhan yang lebih tinggi.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa BPPV lebih banyak ditemui pada perempuan, terutama setelah menopause.
5. Riwayat Migrain
Studi pada perempuan pascamenopause di atas juga mengidentifikasi migrain sebagai salah satu faktor risiko independen kekambuhan.
Namun perlu dicatat, meta-analisis PubMed menyebutkan bahwa pengaruh migrain bersama usia lanjut, trauma kepala, dan penyakit Ménière masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungannya.
6. Penanganan Awal yang Tidak Tuntas
Faktor terakhir ini bersifat praktis. Sebagian orang menghentikan program terapi begitu gejala mereda, atau menangani vertigo hanya dengan obat penekan gejala tanpa memastikan penyebabnya. Padahal, obat pereda gejala tidak memindahkan kristal yang berada di posisi keliru.
Selain itu, jenis BPPV berbeda memerlukan manuver yang berbeda pula. Penanganan yang tidak sesuai jenisnya berpotensi membuat gejala tidak tertangani secara tuntas.
Baca juga : Rekomendasi Klinik Fisioterapi Jakarta Terdekat dan Terbaik
Mengapa Kekambuhan Vertigo Perlu Dicegah?
Selain mengganggu aktivitas, vertigo berulang membawa risiko yang cukup nyata.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di ScienceDirect menyebutkan bahwa vertigo sebagai gejala BPPV dapat meningkatkan risiko jatuh hingga 12 kali lipat menjadikan BPPV sebagai pintu masuk bagi cedera akibat jatuh.
Pada lansia, jatuh berpotensi menimbulkan cedera serius seperti patah tulang. Karena itu, pencegahan kekambuhan bukan sekadar soal kenyamanan.
Baca juga : Cara Mengatasi Sakit Kepala Belakang dan Leher dengan Cepat
Cara Mencegah Vertigo Kambuh
Sebagian faktor risiko memang tidak dapat diubah, seperti usia dan jenis kelamin. Namun sebagian lainnya dapat dikelola. Berikut cara mencegah vertigo kambuh :
1. Periksa Kadar Vitamin D
Mengingat kaitannya dengan kekambuhan, pemeriksaan kadar vitamin D dapat didiskusikan dengan dokter. Suplementasi sebaiknya tidak dilakukan sendiri tanpa pemeriksaan, karena kebutuhan setiap orang berbeda.
2. Kendalikan Kondisi Penyerta
Mengingat tingginya angka kekambuhan pada kelompok dengan kolesterol tinggi, hipertensi, dan diabetes. Pengelolaan kondisi-kondisi ini secara rutin berpotensi membantu menurunkan risiko vertigo.
3. Lanjutkan Latihan Meski Gejala Sudah Hilang
Program latihan mandiri yang diberikan tenaga kesehatan sebaiknya dilanjutkan sesuai anjuran, tidak dihentikan begitu vertigo mereda.
4. Hati-hati dengan Posisi Kepala Ekstrem
Beberapa aktivitas berpotensi memicu kembali terlepasnya kristal:
- Menengadah terlalu jauh (misalnya saat cuci rambut di salon)
- Membungkuk sangat rendah dalam waktu lama
- Gerakan kepala yang cepat dan mendadak
- Posisi kepala terbalik
Bukan berarti harus dihindari sepenuhnya, cukup dilakukan lebih perlahan.
5. Tangani Segera Saat Kambuh
Semakin cepat ditangani, umumnya semakin singkat gangguannya. Menunda penanganan justru memperpanjang periode ketidaknyamanan dan risiko jatuh.
Baca juga : Cara Menghilangkan Sakit Kepala Tanpa Obat
Peran Fisioterapi dalam Menangani Vertigo Berulang
Untuk vertigo yang berulang, penanganan tidak berhenti pada meredakan gejala saat serangan. Fisioterapis dapat melakukan pemeriksaan untuk menentukan jenis vertigo dan saluran mana yang terlibat, karena setiap jenis memerlukan pendekatan yang berbeda. Setelah itu, penanganan dapat mencakup manuver reposisi, latihan rehabilitasi vestibular, serta panduan latihan mandiri di rumah.
Perlu dipahami bahwa hasil penanganan dapat berbeda pada setiap orang, dan tidak ada metode yang dapat menjamin vertigo tidak akan kambuh kembali. Namun penanganan yang tepat berpotensi menurunkan frekuensi kekambuhan dan membantu memulihkan rasa percaya diri dalam beraktivitas.
Layanan Fisioterapi Vertigo di Klinik NK Health
Vertigo yang berulang sebaiknya tidak hanya ditangani saat serangan datang. Klinik NK Health menyediakan layanan fisioterapi vertigo yang dapat membantu menyembuhkan keluhan vertigo, meliputi:
- Pemeriksaan untuk mengenali jenis vertigo, termasuk tes posisi untuk membantu menentukan penanganan yang sesuai.
- Manuver reposisi oleh tenaga terlatih, disesuaikan dengan hasil pemeriksaan.
- Program latihan rehabilitasi vestibular, disusun bertahap sesuai kondisi dan toleransi masing-masing pasien.
- Panduan latihan mandiri di rumah, untuk mendukung kesinambungan penanganan.
- Skrining tanda bahaya, apabila ditemukan gejala yang mengarah pada kondisi lain, pasien akan diarahkan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Keunggulan utama klinik fisioterapi NK Health adalah kualitas tim fisioterapis yang berstandar internasional karena NK Health memiliki Head Physiotherapist : (Dpt) Nicolas Bagus Setiabudi, BPhys (Hons), MBA
- Lulusan Bachelor of Physiotherapy (Honours) — Universitas Melbourne, Australia Master of Business Administration (MBA)
- Berpengalaman bekerja di Tan Tock Seng Hospital, Singapura, salah satu rumah sakit terbaik di Asia Tenggara
- Memimpin tim fisioterapis NK Health dengan standar klinis internasional

Seluruh tim fisioterapis NK Health merupakan lulusan program fisioterapi terakreditasi, berlisensi (STR aktif), dan dilatih secara reguler melalui program pelatihan dalam dan luar negeri. Setiap pasien akan mendapatkan pemeriksaan komprehensif sebelum program terapi dirancang. NK Health sendiri sudah berdiri sejak tahun 2015 dan telah melayani lebih dari 100 ribu pasien. Jadi anda tidak perlu ragu dengan kualitas fisioterapis kami.
TESTIMONI PASIEN KLINIK NK HEALTH
BOOKING SESI TERAPI VERTIGO ANDA SEKARANG DI KLINIK NK HEALTH
