Kenali Bell’s Palsy

KENALI BELL’S PALSY ?

Kenali Bell’s Palsy

kenali Bell’s palsy adalah kelumpuhan/kelemahan wajah yang mendadak atau cepat yang berkembang dalam hitungan jam hingga satu sampai 2 hari. Jika kelemahan wajah berlangsung lebih dari 3 hari, kelainan yang terjadi bisa jadi bukan Bell’s Palsy dan sebab lain harus dipertimbangkan.

Baca juga : Peran penting fisioterapi pada pasien parkinson

PENYEBAB BELL’S PALSY ?

Bell’s Palsy sebelumnya dipercaya sebagai kelainan tanpa sebab atau bersifat idiopatik. Namun saat ini dapat dikatakan bahwa Bell’s Palsy terjadi karena adanya inflamasi virus dari syaraf yang menggerakkan otot pada wajah, terutama untuk gerakan tersenyum. Termasuk di antaranya adalah virus Herpes Simplex, Herpes Zoster, dan Chicken pox yang menyebabkan inflamasi pada Nervus Cranialis VII atau persyarafan wajah.

GEJALA YANG DIALAMI?

Sebagian besar pasien Bell’s Palsy, mengalami nyeri wajah atau telinga se-sisi dengan serangan kelemahan separuh wajah.

Gejala lain:

  • mata kering
  • iritasi mata
  • pengelihatan kabur
  • gangguan indra perasa,
  • kebas di area depan telinga,
  • telinga berdenging,
  • pusing
  • vertigo
  • kehilangan pendengaran.

Bell’s Palsy juga kerap kali dicurigai sebagai gejala awal stroke, namun Bell’s Palsy bukan penyakit stroke. Pasien stroke sebagian kecil secara visual wajah tampak seperti Bell’s Palsy. Namun secara patologi penyakit, kerusakan yang terjadi pada stroke adalah sistem saraf pusat, sedangkan pada Bell’s Palsy ada sistem saraf tepi. Kelemahan pada pasien stroke terjadi pada satu sisi tubuh dan bersifat menyilang dengan sumbatan/pecah pembuluh darah pada hemisfer otak.

Insidensi tingkat kepulihan kembali normal pada pasien Bell’s Palsy adalah 70%. Sisa kelemahan wajah yang masih terlihat, ke arah derajat minimal, muncul di angka 20-25%. Tingkat moderat sampai kelemahan yang sangat nyata lebih jarang terjadi, namun umumnya mempengaruhi di bawah 5% pada kelompok usia di bawah 60 tapi sedikit di atas usia lanjut, pasien dengan diabetes, dan pasien yang menderita Bell’s Palsy selama kehamilan.

Pada kasus Bell’s Palsy, penanganan agresif yang tepat melibatkan penggunaan steroid dosis tinggi, idealnya digunakan di beberapa jam awal terjadinya onset keluhan. Berdasarkan studi meta analisis dari Shi, et all pada tahun 2022, pemberian steroid ditambah obat antivirus dan Electrical Stimulation menyisakan gejala sisa paling sedikit pada kasus Bell’s Palsy akut. Pemberian Electrical Stimulation termasuk pada rangkaian pelayanan fisioterapi pada kasus

Bell’s Palsy. Maka dari itu, diperlukan multidisiplin ilmu dalam penanganan Bell’s Palsy untuk mendapatkan hasil yang optimal.